Belajar Mengikhlaskan

Matahari bulan Desember datang dan merenggut malam yang gelap, menggambarkan bahwa akan ada kebahagiaan setelah kesulitan. Bulan Desember mendatangi tanpa berkata, begitu juga dengan kesuksesan. Dia akan datang bagi siapa saja yang mengharapkannya yang dibuktikan dari kesungguhan dalam berupaya. Bulan Desember 2021 yang dinantikan oleh seorang remaja laki-laki, dimana pada bulan tersebut dia akan genap berusia 17 tahun. Umur yang dianggap sebagai masa peralihan menuju kedewasa, banyak hal yang ia lalui  isak tangis genangan air mata yang terus berlinang, terkadang tertawa lepas hingga lupa bahwa dirinya sedang memikul beban yang berat, terkadang bahagia, terkadang sedih, tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada kehidupan selanjutnya. Umur yang terus bertambah membuat dirinya belajar akan pahitnya kehidupan nyata.

Sebagai seorang lelaki tunggal dalam keluarga, beban berat akan selalu hidup menghampirinya. Jika orang lain terlihat tersenyum bahagia di hari ulang tahunnya, maka sebaliknya tak ada sedikit pun senyuman melainkan rasa sedih yang tak akan pernah ia lupakan semasa hidupnya. Rasa sedih yang tak terelakkan, kekecewaan yang mendalam, serta rasa sakit yang hingga kini masih membekas dalam ingatan dirinya. Sejak kecil ia tidak pernah mengeluh akan segala hal yang ia lalui, ia lebih memilih untuk memendam segala rasa yang ia rasakan.

Saat matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, tepat disaat ayam mulai berkokok dan embun pagi yang terasa segar pada tanggal 15 Desember 2021 lalu kabar yang tidak mengenakkan terdengar kepada setiap anggota keluarga yang ia miliki. Kabar yang menimbulkan rasa kegelisahan serta rasa pedih yang tak pernah dilupakan. Di hari ulang tahun remaja itu, ia harus menahan rasa sakit yang membuat dirinya harus menghabiskan banyak waktu di rumah sakit. Dengan kondisi ekonomi kurang mendukung tapi harus mengeluarkan biaya rumah sakit yang tidak sedikit dan menjadi beban  berat yang terus mengganggu pikirannya. Bahkan disaat rasa sakit yang terus menyerang tubuhnnya, pikiran yang terus berbicara memenuhi benaknya ia tidak bisa beristirahat sedetikpun, bahkan disaat ia tengah terbaring lemas dengan jarum infus yang menempel ditangan kanannya.

Hari-hari ia lalui dengan penuh perjuangan dengan doa memohon kesembuhan tak henti terucap dari mulutnya, kata-kata penguat terus diucapkan oleh saudara jauh agar ia tetap semangat untuk bertahan di tengah situasi sulit itu. Melalui doa dan penguatan yang terus diucapkan walaupun akhirnya harus merelakan salah satu indra pengelihatan. Semua itu meninggalkan trauma yang sangat mendalam bagi setiap orang terkhusunya yang kehilangan. Tidak ada yang menyangka bahwa ia harus kehilangan salah satu indra pengelihatannya dan tidak ada seorang pun didunia ini yang mau kehilangan hal tersebut. Menjalani hari dengan keterbatasan dalam melihat bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi, ada nya kemungkinan untuk di kucilkan, merasa sendiri, tidak bisa melihat dunia dengan sempurna, munculnya perasaan berbeda dari yang lain, rasa insecure dan lain sebagainya.

Membiasakan diri dengan hal yang sebelumnya belum pernah terjadi akan memakan waktu yang lama, memakan pikiran, tenaga, bahkan perasaan ikhlas agar bisa menerima kenyataan. Remaja itu yang saat ini semakin beranjak dewasa mau tak mau harus membiasakan diri dengan lingkungan sekitarnya, melanjutkan langkah karirnya, dan mewujudkan mimpinya. Perjalanan hidup yang telah ia lalui hingga saat ini memberikan suatu pelajaran perihal ‘Mengikhlaskan’ suatu kata sederhana tapi tak mudah untuk dilakukan. Mencoba untuk mengikhlaskan semua kenangan pahit yang pernah terjadi, niscaya hati akan merasa jauh lebih tenang. Dengan begitu, barulah lembaran baru bisa dimulai sosok remaja yang luar biasa tangguh dan bertahan dengan sekuat tenaga kini telah mempelajari banyak hal perihal ‘mengikhlaskan’. Dengan terpaan badai, tapi ia tetap bertahan hingga matahari mulai memancarkan sinarnya, sosok remaja yang saat ini tengah berkuliah sudah mulai terbiasa dengan keadaannya saat ini. Tak peduli apa kata orang, fokus pada tujuan untuk menjadi sukses adalah niat utamanya saat ini. Dengan belajar mengikhlaskan kini ia bisa berdamai dengan keadaan terlebih pada dirinya sendiri. Bersabar dikala proses penyembuhan adalah kunci utama saat menuju fase ‘Mengikhlaskan’.

 

Comments

Popular posts from this blog

Seni Potong Tempel

Arab Maklum 2 akan resmi tayang pada bulan April 2024

Menelusuri Jejak Kehangatan Persahabatan