Cinta Pertama si Penulis

Cerita ini dimulai dari seorang wanita mungil dengan rambut pendek berwarna coklat. Ia adalah sosok yang periang dipenuhi oleh tawa, mata kecil dan senyuman manis diwajahnya. Ia memilki segudang kesibukan untuk menutupi kesedihannya, terlihat bahagia namun nyatanya tidak. Akan tetapi ia tidak menunjukkan kesedihannya di muka umum, sehingga tak semua orang dapat mengetahuinya. Si penulis penyuka makanan manis, anehnya ia sama sekali tidak  bisa memakan makanan yang pedas. Baginya menjalani hidup sebagaimana yang dijalani oleh si penulis sudah cukup pedas dan kejam, ia juga tidak lupa bersyukur bahwa si penulis hebat telah mampu bertahan hingga sejauh ini.

Si penulis adalah wanita yang lahir di tahun 2000-an, lahir dan bertahan di zaman milenial yang penuh romantisme dan dramatisir. Kala itu tepat di tahun 2021 adalah tahun dimana si penulis menemukan cinta pertamanya, Gen-Z menyebutkan “First Love”. Tepat di tahun itu wabah covid-19 masih merajalela menguasai hampir separuh negara ibu pertiwi, segala jenis aktifivitas khususnya di ibukota lumpuh total. Dikarenakan kegiatan yang lumpuh total banyak kegiatan yang dilakukan di rumah dan berlangsung secara virtual. Tepatnya pada suatu perkumpulan orang muda kristen si penulis bertemu dengan cinta pertamanya, pada pertemuan itu layaknya perkenalan biasa sebagaimana dua manusia yang tidak saling mengenal.

Lambat laun berlalu, cinta pertama si penulis merupakan sosok yang peduli dan pendengar yang baik. Menggunakan kacamata dengan hidung mancung dan senyuman manis terpancar di wajahya. Hal yang membuat si penulis jatuh hati adalah sifat humoris, penyayang, pendengar yang baik serta mudah bergaul. Karena sejak kecil si penulis tidak tempat untuk bercerita yang membuatnya nyaman, ketika ia memulai untuk mengutarakan perasaannya yang ia dapatkan hanya hujatan menghakimi oleh si pendengar. Cinta pertamanya adalah pendengar yang baik baginya, sosok yang penyayang terhadap anak-anak kecil, dan humoris. Tak perlu banyak alasan untuk jatuh cinta, ia bukan dari kalangan kapitalis ia hanya seorang lelaki biasa yang mencoba bertahan melanjutkan hidupnya.

Hari demi hari berlalu, mereka semakin mengenal satu dengan yang lain dengan pertemuan-pertemuan tertentu. Mulai saling berkomunikasi akibat satu dua hal yang saling membutuhkan, mencoba untuk saling bertukar pikiran menceritakan kisah masing-masing. Waktu yang terus berjalan tak terasa menghampiri bulan Februari 2022 si penulis memberanikan diri untuk menemui cinta pertamanya. Dengan beribu alasan dan usaha ia upayakan agar dapat bertemu dengannya. Bandung adalah saksinya pertemuan pertama antara si penulis dengan cinta pertamanya, walaupun pertemuan itu hanya hitungan jam tak masalah baginya demi rasa rindu yang ia telah tahan selama ini.

Kisah cinta si penulis dengan cinta pertamanya tidak semulus yang ada dibenakmu. Banyak perdebatan yang terjadi, ricuh senyap antar komunikasi, hilang timbul bahkan  hilang kontak yang cukup lama juga pernah terjadi. Ketika si penulis dengan cinta pertamanya hilang kontak, tidak memiliki koneksi sama sekali dan terpisah jarak yang cukup jauh. Mereka akhirnya saling berkomunikasi lagi disaat kedaaan pada kedua belah pihak sedang tidak baik-baik saja, kontak batin yang cukup kuat membuat mereka saling berkomunikasi dan mulai bercerita tentang keadaan masing-masing di kala itu.

Lagi-lagi hanya memantau waktu yang terus berjalan, tak terasa tiba di penghujung tahun 2023. Si penulis telah terikat janji untuk menghampiri lagi cinta pertamanya. Semakin lama mereka mengenal maka semakin banyak pula cerita yang telah mereka ukir bersama, semakin banyak pola yang telah mereka bentuk bersama. Perjalanan yang ia tempuh cukup jauh, tapi tak menghalangi semangatnya untuk pertemuan terakhir itu.

Bagi si penulis pertemuan ini akan menjadi akhir dari perjalanan cinta pertamanya, ia telah mengetahui sejak awal tentang sebuah fakta bahwa cinta tak harus bersama. Jika kelak Tuhan mempertemukan mereka kembali, semoga itu hanya mimpi yang tak akan terwujud tapi bukan mimpi buruk.

 

Comments

  1. Ceritanya cukup menghibur pembacanya. Beruntung sekali pria itu! Dirinya di ceritakan di sebuah artikel. Tapi, kabarnya si penulis sudah menjalin sebuah hubungan dgn pria itu. Selamat ya!! Doanya sudah terjawab.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Seni Potong Tempel

Arab Maklum 2 akan resmi tayang pada bulan April 2024

Menelusuri Jejak Kehangatan Persahabatan