Ruang penuh Sukacita


Kisah dimulai pada pusat kota yang penuh dengan kebisingan riuk kendaraan yang melintas. Di tengah-tengah kota ini, terdapat sebuah gereja yang unik, Gereja Dishabilitas. Gereja ini tidak hanya tempat ibadah bagi komunitas tuli, tetapi juga sebuah tempat di mana keindahan bahasa isyarat, cinta, dan keyakinan bersatu dalam harmoni yang indah. Bukan hanya tuli, cacat secara fisik seperti lumpuh, bisu, bahkan yang tidak bisa melihat pun hadir dengan penuh sukacita. Pada sabat pagi yang cerah itu, gereja itu dipenuhi oleh umatnya yang setia. Mereka datang dari berbagai lapisan masyarakat, dengan cerita dan perjuangan masing-masing. Ada anak-anak yang bersemangat, orangtua yang bijaksana, dan para lansia yang membawa kenangan masa lalu. Mereka berkumpul di bawah atap gereja yang megah untuk beribadah dan bersatu dalam doa.

Di bangku paling depan duduk seorang wanita, Queensly salah seorang pemudi Advent yang tengah melakukan kunjungan ke Gereja Dishabilitas pada sabat itu. Layaknya anggota gereja yang tidak memiliki kekurangan secara fisik, akan tetapi terganggu dengan sistem pendengaran yang  kurang sempurna. Hal inilah yang terjadi saat Queensly mengunjungi gereja ini, tidak ada yang sempurna di dunia ini akan tetapi dengan kasih gereja ini peduli terhadap umat seagama yang memiliki ketidak sempurnaan dalam pendengaran.

Ketika ibadah dimulai, paduan suara gereja yang indah mulai menyanyikan himne yang merdu. Suara mereka memenuhi gereja dan menciptakan atmosfer yang penuh dengan kekhusyukan. Tak sepenuhnya anggota setia Gereja Masehi Advent Hari Ke-7 pada ruangan ini memiliki gangguan pendengaran masih ada beberapa anggota yang bisa mendengar guna memimpin ibadah berlangsung dan untuk menyambut para tamu. Keterbatasan yang dimiliki oleh setiap anggota yang datang ke gereja tak menghalang semangat mereka untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Saat satu persatu bait lagu dinyanyikan, hingga tiba diacara inti tak ada satupun yang sibuk asik sendiri semua hanya duduk diam mendengarkan indahnya  firman tuhan yang dibawakan oleh Elvyra Tumangkeng pada saat itu.

Firman Tuhan yang menguatkan itu berbicara mengenai arti dari indahnya dunia pelayanan, bagaimana umat Tuhan menjadi terang dunia, bagaimana kita bersikap baik dan benar di dunia yang penuh dengan godaan ini. Menginat waktu yang terus berjalan hingga tiba di penghujung acara, dengan wajah penuh sukacita semua hadirin berdiri melantunkan lagu penutup disertai dengan doa kudus yang dibawakan oleh pastor. Queensly wanita berambut hitam manis,  melihat ke sekeliling gereja, keterbatasan fisik tidak menjadi halangan untuk semua umat Tuhan datang ke gereja untuk berbakti bersama memuji dan memuliakan nama Tuhan. Ia berpikir sejenak hidup di tengah kota yang penuh dengan godaan duniawi dapat saja kita lakukan dimana pun dan kapanpun, tapi memulih untuk tetap setia dan berada dijalan-Nya adalah sesuatu hal yang patut diapresiasi.

Saat tiba waktunya untuk pulang Queensly pun memberikan senyuman manis sembari menyapa orang-orang di sekitarnya. Para pemuda di Gereja ini juga sangat antusias menyambut para tamu yang hadir disetiap kebaktiannya, hadirin yang hadir bukan hanya dari kalangan orang tua tapi mulai dari yang terkecil seperti anak kecil hingga lansia. Akhirnya dengan hati yang penuh dengan suka cita Queensly pun melangkahkan kaki nya untuk keluar dari dalam Gereja dan kembali pulang ke rumahnya.

Comments

Popular posts from this blog

Seni Potong Tempel

Arab Maklum 2 akan resmi tayang pada bulan April 2024

Menelusuri Jejak Kehangatan Persahabatan